Intervensi anak tuna grahitha.Menekankan
pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan bunyi huruf .Pada mulanya anak
di ajak mengenal bunyi huruf,suatu proses memecahkan kode atau
sandi yang berbentuk tulisan menjadi bunyi yang sesuai anak tuna grahita atau anak bermasalah
dengan keterlambatan bicara.
Metode Membaca
1. Metode Fonik
Menekankan
pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan bunyi huruf. Pada mulanya anak
di ajak mengenal bunyi huruf, kemudian menjadi suku kata dan kata. Mengenalkan
huruf mengaitkan huruf depan dengan berbagai nama yang sudah dikenal anak.
misal: B………
K………
2. Metode Linguistik
Metode ini
didasarkan atas pandangan bahwa membaca ialah suatu proses memecahkan kode atau
sandi yang berbentuk tulisan menjadi bunyi yang sesuai. Metode ini menyajikan
kepada anak suatu kata yang terdiri dari konsonan- vocal / vocal- konsonan.
Suku kata menjadi kata.
Misal : bu – ku Þ buku
3. Metode SAS ( Struktural Analisis
Sintetik)
Mengajar membaca dengan mengenalkan
kalimat dipisah menjadi kata- suku kata – uruf – suku kata – kata – kata –
kalimat.
Misal: ini ibu budi
ini – ibi – budi
i – ni i – bu bu – di
i – n – i i – b – u b – u – d – i
i – ni i –
bu bu – di
ini – ibi –
budi
ini ibu
budi
4.Metode Fernald ( VAKT ) = Visual
Auditory Kinestetic Taktic
Mencoba menulusuri
huruf yang dibentuk dengan gerakan telunjuk di udara, kemudian anak membacanya,
diulang beberapa kali, sehingga anak bisa membacanya dengan baik.
5. Metode Gilingham
Diajarkan beberapa huruf dan perpaduan huruf, kemudian
menebalkan titik – titik huruf / kata yang telah diajarkan, biasanya lebih
sering kata benda yang ada di lingkungan anak dan dimengerti anak, sambil
menebalkan anak membaca huruf / kata apa yang sedang dia tebalkan.
6. Metode Analisis Gelas.

Anak menyimak gambar peraga yang
diperlihatkan. Mengidentifikasi kata lalu mengucapkan kata dengan bunyi
kelompok.
Misal
: B a j u , dibaca b a – j u B u k u , dibaca b u – k u
Setelah anak mengulang beberapa kali , tulisan huruf yang
tadi disebutkan, kemudian coba tutup sebagian atau salah satu huruf, sampai
anak ingat betul.
Terapi
Fisioterapi : Suatu terapi awal yang diperlukan oleh anak tuna grahita
dikarenakan tuna grahita terlahir dengan tonus yang lemah, dengan terapi awal
ini berguna untuk menguatkan otot-otot mereka sehingga kelemahannya dapat di
atasi dengan latihan-latihan penguatan otot.
Terapi Wicara
Suatu terapi yang di pelukan untuk anak tuna grahita atau anak bermasalah
dengan keterlambatan bicara, dengan deteksi dini di perlukan untuk mengetahui
seawal mungkin menemukan gangguan kemampuan berkomunikasi, sebagai dasar untuk
memberikan pelayanan terapi wicara.
Terapi Okupasi
Terapi ini di berikan untuk dasar anak dalam hal kemandirian,
kognitif/pemahaman, dan kemampuan sensorik dan motoriknya. Kemandirian
diberikan kerena pada dasarnya anak "bermasalah" tergantung pada
orang lain atau bahkan terlalu acuh sehingga beraktifitas tanpa komunikasi dan
memperdulikan orang lain. Terapi ini membantu anak mengembangkan kekuatan dan
koordinasi, dengan atau tanpa menggunakan alat.
Terapi Remedial
Terapi ini diberikan bagi anak yang mengalami gangguan akademis skill, jadi
bahan bahan dari sekolah bias dijadikan acuan program.
Terapi kognitif
Terapi ini diberikan bagi anak yang mengalami gangguan kognitif dan perceptual,
missal anak yang tidak bias berkonsentrasi, anak yang mengalami gangguan
pemahaman, dll.
Terapi sensori integrasi
Terapi ini diberikan bagi anak yang mengalami gangguan pengintegrasian sensori,
misalnya sensori visual, sensori taktil, sensori pendengaran, sensori keseimbangan,
pengintegrasian antara otak kanan dan otak kiri, dll.
Anak di ajarkan berprilaku umum dengan pemberian system reward dan punishment.
Bilan anak melakukan apa yang di perintahkan dengan benar, makan diberikan
pujian. Jika sebaliknya anak dapat hukuman jika anak melakukan hal yang tidak
benar. Dengan perintah sederhana dan yang mudah di mengerti anak.
Terapi snoezelen
Snoezelen adalah suatu aktifitas terapi yang dilakukan untuk mempengaruhi CNS
melalui pemberian stimulasi pada system sensori primer seperti visual,
auditori, taktil. Taste, dan smell serta system sensori internal seperti
vestibular dan proprioceptif dengan tujuan untuk mencapai relaksasi dan atau
aktifiti. Snoezelen merupakan metode terapi multisensories.
Terapi ini di berikan pada anak yang mengalami gangguan perkembangan motorik,
misalnya anak yang mengalami keterlambatan berjalan.
Anak autis
. Terapi perilaku
Terapi Perilaku terdiri dari terapi wicara (sampai kepada komunikasi
Pragmatis atau bahasa gaul), terapi okupasi, akademik, Bantu diri dan
menghilangkan perilaku asosial.
a.Terapi okupasi, Terapi ini untuk menguatkan, memperbaiki koordinasi dan
keterampilan ototnya.
b.Terapi Wicara, Bagi penyandang autisme oleh karena semua penyandang
autisme mempunyai keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa
, speech
therapy adalah juga suatu keharusan, tetapi pelaksanaannya harus dengan
metode ABA.
c. Sosialisasi dengan menghilangkan perilaku yang tidak wajar, hal ini perlu
dimulai dari kepatuhan dan kontak mata, kemudian diajarkan konsep menirukan,
lalu diberikan pengenalan konsep dan kognisi melalui bahasa reseptif/kognitif
dan bahasa ekspresif disertai dengan tata krama dan sebagainya.
b. Terapi biomedik
Sebagian besar terapi biomedik terhadap ASD diintegrasikan dengan kegiatan
anak di rumah dan di sekolah. Hal ini dilakukan karena terapi yang
dilakukan secara terpisah kurang berhasil.
c. Pengobatan (pemberian obat, vitamin, mineral,
food
supplements)
Tidak diketahui adanya pengobatan menyeluruh terhadap autisme, menggunakan
pengobatan tradisional, obat-obatan herbal atau homeopati. Obat-obatan bukanlah
perawatan utama dalam autisme. Pemberian obat-obatan untuk penyandang autisme
sifatnya sangat individual dan perlu berhati-hati. Dosis dan jenisnya sebaiknya
diserahkan kepada Dokter Spesialis yang memahami dan mempelajari autisme
(biasanya Dokter Spesialis Jiwa Anak).
d. Program Intervensi lainnya
a. Program Adaptasi Hanen: yaitu suatu program pelatihan di bidang bahasa
dan bicara. Dalam berkomunikasi dengan anak autisme haruslah menggunakan bahasa
yang sederhana, saling bertatapan muka dengan anak, dan mendengarkan mereka
dengan baik.
b.
Auditor Integration Training (pelatihan integrasi auditori):
yaitu suatu program pelatihan dengan menggunakan suara sebagai cara mengekspos
anak pada serangkaian pengalaman pendengaran. Alat dengan headphone digunakan
untuk memainkan musik yang dapat diubah dan dikontrol.
c. Diet: beberapa diet telah disarankan untuk mengurangi beberapa gejala
autisme. Hingga kini belum ada riset yang mengkomfirmasi keefektifannya. Diet
bebas gluten dan kasein adalah yang sangat umum ditemui. Namun tak ada bukti
yang menunjukkan bahwa dengan mengeluarkan gluten dan kasein dari diet anak
mengarah pada perubahan dalam perkembangan anak.
d. Lumba-lumba: merupakan suatu program
treatment, yaitu berenang
dengan ikan lumba-lumba sebagai kegiatan terapi.
e.
EarlyBird: yaitu suatu program pelatihan bagi para orang tua
anak autis. Tujuan dari pelatihan ini yaitu,
1) untuk mendukung orang tua dalam
periode diantara identifikasi dan penempatan sekolah, khususnya dalam
memahami autisme.
2) untuk mendorong orang tua dan membantu memfasilitasi
komunikasi sosial anak dan tingkah laku sesuai dalam lingkungan alami anak.
3)
untuk membantu orang tua mempraktekkan pengasuhan anak di usia awal dengan
sebagai pengendali perkembangan tingkah laku yang tak sesuai.
f. Higashi: terapi
daily life dikembangkan di jepang oleh Dr. Kiyo
Kitahara dan lainnya. Terapi ini memusatkan filosofi mereka pada
budaya Jepang atas penampilan dan milik kelompok. Ini merupakan kurikulum 24
jam yang berfokus pada keterampilan hidup sehari-hari, pendidikan fisik, musik,
dan prakarya.
g.
Lovaas: pelatihan ini menggunakan pendekatan berdasarkan terapi
tingkah laku, serta menggunakan penguatan positif untuk mendorong pembelajaran.
Karena program ini sangat terstruktur dan membutuhkan kerjasama yang tinggi
dari anak dengan tingkat perulangan yang tinggi.
h.
Mifne: pelatihan ini merupakan program intervensi awal untuk
keluarga dengan anak autis di bawah umur lima tahun. Program ini menggunakan
pendekatan melalui permainan resiprokal (saling respon) dengan anak. Program
ini juga menggunakan tim, bekerja secara intens dengan anak dan keluarga untuk
menghasilkan lebih banyak peluang berkomunikasi. Ini bertujuan untuk
memperbaiki kontak mata, ekspresi afeksi, dan kepedulian sosial.
i.
PECS: The Picture Exchange Communication System, program ini
mengajarkan anak menukar gambar dengan benda yang diinginkannya, program ini
dimulai dengan satu gambar tunggal, bergerak pada pilihan dan kemudian
membentuk kalimat yang lebih kompleks.
j. Program
Son-Rise, program ini merupakan perawatan dengan
pendekatan pendidikan yang dirancang untuk membantu anak autis, keluarga dan
pengasuh mereka. Pendekatan ini juga mengeksploitasi ketertarikan anak dan
interaksi orang dewasa dengan apa yang dilakukan anak, dan pendekatan ini juga
menyarankan interaksi sosial dan belajar sebagai pemfasilitas terbaik melalui
ketertarikan spesifik anak. Adapun prinsip kunci dalam program ini yaitu:
1)
secara aktif bergabung dengan tingkah laku berulang atau tak biasa anak dalam
usaha memfasilitasi lebih banyak interaksi sosial.
2) fokus pada motivasi anak
dan ketertarikannya untuk memfasilitasi pembelajaran dan keterampilan.
3)
mendorong permainan interaktif dan menggunakan ini untuk belajar.
4)
mempertahankan sikap mengasuh, tanpa menghakimi, dan positif dalam interaksi
dan harapan.
5) menyampaikan bahwa orang tua dan pengasuh adalah sumber paling
penting dan tanpa akhir bagi anak.
6) menciptakan area bekerja dan bermain yang
aman, tanpa gangguan.
k.
TEACCH, program ini bertujuan untuk membantu anak ASD hidup
mandiri sesuai dengan potensi terbaik mereka.
Program ini juga menyarankan
pengajaran berstruktur, tetapi tidak mendikte dimana orang dengan autisme
seharusnya dididik. Program ini juga menyediakan layanan seperti identifikasi,
pengembangan kurikulum, setiap individu, pelatihan keterampilan sosial,
pelatihan dan konseling orang tua. Sebagai tambahan program ini juga
menyediakan layanan konsultasi keberbagai kelompok profesinal. Orang tua dan
guru dapat dilatih dengan pendekatan TECCCH.